Sekurang-kurangnya ada 2 ciri seseorang sudah bekerja maksimal atau belum. Ciri ini penting untuk dikenali karena hanya mereka yang bekerja maksimal akan tampil sebagai PEMENANG. Ingat tidak setengah-setengah untu juara sejati! Dan pada jaman kini, untuk menjadi pecundang - Anda cukup memiliki kualitas rata-rata, apalagi di bawah rata-rata. Mari kita bahas kedua ciri-ciri PEMENANG karena bekerja secara maksimal.
Sabtu, November 29, 2008
BEKERJA MAKSIMAL ALA PEMENANG
Sekurang-kurangnya ada 2 ciri seseorang sudah bekerja maksimal atau belum. Ciri ini penting untuk dikenali karena hanya mereka yang bekerja maksimal akan tampil sebagai PEMENANG. Ingat tidak setengah-setengah untu juara sejati! Dan pada jaman kini, untuk menjadi pecundang - Anda cukup memiliki kualitas rata-rata, apalagi di bawah rata-rata. Mari kita bahas kedua ciri-ciri PEMENANG karena bekerja secara maksimal.
Jumat, November 21, 2008
KETRAMPILAN BERORGANISASI
Veritas Plateat, Veritas Placeat, Veritas Moveat
Survey membuktikan bahwa 90% pimpinan organisasi kenegaraan, bisnis, pendidikan, sosial dan berbagai organisasi lain adalah mantan organisatoris kampus. Mengapa organisatoris kampus mampu meraih pucuk pimpinan organisasi di berbagai bidang? Jawabannya karena mereka memiliki ketrampilan berorganisasi. Ketrampilan berorganisasi meliputi inventarisasi fenomena, perumusan pola pikir bersama, menyinergikan kekuatan, harmonisasi fenomena baru dan peralihan generasi.
Inventarisasi Fenomena
Setiap lingkungan punya fenomena tersendiri, begitupula lingkungan organisasi. Karakteristik organisasi melahirkan fenomena yang berbeda pula. Lingkungan kemahasiswaan, bisnis, sosial kemasyarakatan, profesi, akademisi dan kenegaraan memiliki fenomena unik tersendiri. Fenomena yang terlihat paling obyektif pun lahir dari kebutuhan dan masalah subyektifitas dari individu di dalamnya.
Organisasi adalah 2 individu atau lebih yang bekerjasama dengan cara terstruktur untuk mencapai sasaran. Kumpulan kepentingan dengan ego, nilai dan subyektifitas akan berinteraksi dengan topeng masing-masing di bawah komando superordinate goal. Setiap individu akan eksis di organisasi selama organisasi melayani kepentingan mereka. Sebaliknya organisasi akan eksis selama mampu melayani, mengakomodasi, dan memberikan penghargaan kepada kepentingan individu yang berinteraksi dengan organisasi tersebut.
Kepentingan itu nampak dalam wujud kebutuhan dan masalah. Ketrampilan berorganisasi pertama meliputi seberapa cepat seorang individu mampu menginventaris kebutuhan dan masalah yang bergema di setiap rapat dan diskusi organisasi itu. Perhatikan dan rasakan individu mengatasnamakan superordinate goal untuk perjuangkan kepentingan mereka!
Maslow merumuskan hirarki kebutuhan (needs), mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman, ikut memiliki dan kasih sayang, penghargaan, aktualisasi diri. Perkembangan terakhir Maslow menempatkan transendensi diri sebagai puncak, yaitu spiritualitas. Kebutuhan itu meliputi mulai dari keinginan belajar berorganisasi sampai keinginan memiliki harta dan tahta. Sifat kebutuhan positif, namun topengnya bisa positif, bisa juga negatif. Begitupula masalah, topeng menjadi lebih terbuka ketika orang sedang menghadapi masalah. Masalah adalah nafas hidup, jadi amati masalah setiap orang maka reaksinya membuka kualitas orang itu. Buka topengnya, inventaris kebutuhannya, maka Anda tinggal arahkan pola pikirnya!
Perumusan Pola Pikir
Pola pikir (mindset) mempengaruhi pencapaian kepentingan, bahkan dapat merubah kepentingan lama. Pola pikir dapat memberi inspirasi, dream, ideologi, dan nilai hidup yang baru. Apa yang dipikirkan akan tampak dalam perkataan dan perbuatan individu. Oleh karena itu, perkataan dan perbuatan organisasi adalah output pola pikir individu di dalamnya.
Ketrampilan berorganisasi kedua meliputi seberapa terampil seorang individu merumuskan pola pikir bersama. Apa dasarnya sehingga pola pikir itu menjadi pola pikir bersama? Dasarnya adalah hasil inventarisasi fenomena (kebutuhan dan masalah) yang ada. Pola pikir bersama dirumuskan sedemikian rupa untuk mengakomodasi kepentingan sebanyak mungkin individu dalam organisasi.
Perhatikan bagaimana Andrew Tani merumuskan pola pikir tentang paradigma organisasi efektif. Paradigma adalah cara melihat sesuatu. Paradigma merupakan bagian dari pola pikir. Paradigma efektifitas organisasi memerlukan alat yang menjadi pola pikir bersama. Alat itu yang kita kenal sebagai visi, misi, strategi, nilai, struktur, gaya dan hasil.
Visi berupa ambisi mengenai kondisi di masa yang akan datang (what we want to be). Visi berupa mimpi mengenai kondisi pada waktu tertentu (dream with a date). Visi berawal dari para founding father dan dapat disempurnakan generasi penerus mengikuti perkembangan jaman. Faktor eksternal dan internal organisasi melahirkan visi yang menjadi superordinate goal karena mengakomodasi kepentingan. Visi disempurnakan hanya dengan mimpi dan ambisi yang lebih besar atau realistis. Pencapaian visi selalu berlandaskan misi sebagai action force organisasi.
“Vision without action is only a dream, action without vision is only merely passing out of time, but vision with action can change the world”
Misi adalah alasan mengapa sebuah organisasi ada (why we exist). Misi menunjukan dalam urusan apa organisasi bergerak (what business we are in). Misi haruslah berupa kata kerja yang mendekati keabadian karena apabila misi selesai maka organisasi bubar. Misi merupakan tugas organisasi untuk masyarakat luas dan kepentingan anggotanya. Organisasi dibangun atas apa yang namanya misi, maka misi harus memuat nilai luhur kemanusiaan.
Misi akan dijabarkan menjadi sisi teknis dan manusia. Sisi teknis merumuskan strategi, sedangkan sisi manusia merumuskan nilai (value). Strategi dan nilai akan membentuk struktur (pada sisi teknis) dan gaya (pada sisi manusia). Sisi teknis adalah manajemen, sedangkan sisi manusia adalah kepemimpinan. Manajemen bersifat alat (tools), sedangkan kepemimpinan bersifat seni (art). Termasuk dalam sisi teknis adalah manajemen berbagai hal, strategi, struktur, sistem, dan prosedur. Termasuk dalam sisi manusia adalah kepemimpinan, motivasi, presentasi, komunikasi, pemecahan masalah, pola pikir, dan administrasi.
Sisi Teknis dan Sisi Manusia
Sisi teknis pertama organisasi adalah menyusun strategi pelaksanaan misi untuk pencapaian visi. Strategi adalah rencana aksi memenangkan permainan (our game plan), yaitu pencapaian visi. Sebagai contoh, strategi hancurkan ekonomi untuk imperialisme modern. Borong dollar, stop dan alihkan investasi, berikan pinjaman, ciptakan ketergantungan impor, lahirkan konglomerasi, adu domba militer dan salahkan tirani.
Sisi manusia pertama organisasi adalah nilai. Nilai dibentuk dari lingkungan, mulai keluarga, sekolah, dan masyarakat tempat seseorang banyak menghabiskan waktu. Perbedaan nilai (input) melahirkan pola pikir -termasuk paradigma- yang berbeda (output), lalu berujung adanya konflik (outcome). Nilai berbicara tentang dunia seperti apa yang harus kita ciptakan. Nilai dapat berupa kesetiaan, pengorbanan, kejujuran, keimanan, persahabatan, bahagia, merdeka, kesejahteraan, kekayaan, kebersamaan, persaingan, ulet sampai pada kemenangan.
Strategi dan nilai akan mendasari struktur organisasi termasuk job description yang perlu dibentuk (sisi teknis). Sedangkan pada sisi manusia, strategi dan nilai mengarahkan gaya (termasuk: SDM budaya dan etos kerja) yang dibutuhkan perusahaan. The right man in the right place tentu salah satu ketrampilan berorganisasi pada bagian
Rancangan struktur organisasi boleh dibuat rumit atau sederhana tergantung strategi organisasi. Rancangan rumit akan menyulitkan pihak yang hendak merugikan organisasi, jeleknya ada individu dalam organisasi yang sulit memberi kontribusi maksimal bagi efektifitas organisasi. Sebaliknya rancangan sederhana memudahkan siapapun mempelajari pola kerja sampai strategi organisasi, sayangnya jika ada pihak jahat maka organisasi mudah dirugikan atau dihancurkan. Prinsipnya perlu dicari struktur yang mampu dipahami anggotanya namun mengandung daya tangkal terhadap ancaman eksternal ataupun penghianat.
Gaya meliputi budaya, etos kerja, dan SDM organisasi. Budaya organisasi memuat nilai dan sistem dominan hasil dari pemaknaan bersama warga organisasi sekaligus menjadi pembeda dengan organisasi lain. Perguruan tinggi Katolik tentu memiliki budaya berlandaskan nilai iman Katolik. Begitupula perguruan tinggi Indonesia tentu memiliki budaya berlandaskan nilai Indonesia yakni pancasila. Dengan demikian yang disebut budaya adalah nilai positif. Korupsi dan Narkoba bukan budaya, tapi distorsi budaya. Etos kerja adalah gaya bekerja personel organisasi. Etos positif merupakan bagian dari budaya. Subyek budaya dan etos kerja organisasi adalah SDM yang direkrut oleh organisasi.
Menyinergikan Kekuatan
Ketrampilan inventarisasi fenomena dan merumuskan pola pikir bersama merupakan kekuatan ampuh mengendalikan organisasi menuju efektifitas. Jangan lupa, efektifitas organisasi berarti efektifitas pribadi pengendali. Kepentingan pribadi, dengan segala topengnya, akan terpuaskan ketika individu atau sejumlah individu mengendalikan organisasi. Oleh karena itu kekuatan ampuh tadi perlu disinergikan dengan kekuatan individu lain atau kekuatan organisasi yang sudah ada saat kita bergabung. Ketrampilan menyinergikan kekuatan merupakan ukuran ketiga dalam ketrampilan berorganisasi.
Sinergi pertama akan kita peroleh jika kita mengambil momentum untuk posisi berpengaruh. Kita perlu menunjuk tangan untuk tugas penting yang tersedia, misalnya menjadi ketua, pimpinan lain, kordinator, supervisor atau formatur kepemimpinan. Bagaimana mungkin orang lain akan menghormati pemikiran kita kalau mereka tidak pernah tahu pemikiran kita? Bagaimana mungkin mereka tahu kalau setiap rapat, diskusi dan debat kita diam saja? Bagaimana mungkin kita diam saja kalau kita punya ketrampilan inventarisasi fenomena dan perumusan pola pikir bersama sebelum rapat dimulai? Dan akhirnya bagaimana mungkin kedua ketrampilan tadi menjadi teori belaka dari tulisan ini karena Anda tetap tidak dapat berorganisasi? Kesimpulannya, cari momentum di setiap kesempatan untuk bicara, pengaruhi, dan pimpin arah organisasi!
Ketrampilan ketiga juga meliputi ketrampilan memetakan kekuatan secepat dan setepat mungkin dalam setiap interaksi. Perhatikan permainan masing-masing individu, kerucutkan ujung pembicaraan mereka, mana yang memiliki kesamaan dan perbedaan. Pinjam bicara orang lain untuk mendapatkan dukungan terhadap apa yang kita bicarakan. Percayalah, sulit bagi banyak orang menjilat ludahnya sendiri. Contoh: ”Saya setuju dengan ucapan Budi, hal lain yang perlu…”. Dalam perbincangan ke depan, Budi ada di pihak Anda, minimal dia akan menghindari berbantah pendapat dengan Anda di forum tersebut.
Ketrampilan ketiga juga memasukan kemampuan seseorang menyeleksi kawan yang kelak menjadi pengikutnya. Jangan pernah remehkan individu yang tampak lemah! Jika dia dipandang kuat oleh Anda sedangkan yang lain memandangnya lemah, maka dia akan punya kekuatan luar biasa bagi pemikiran Anda. Jangan lupa, minimal satu suara dia milik Anda! Ketrampilan meletakan the right man in the right place dalam “kabinet” Anda, juga sinergi kekuatan buat Anda.
Terakhir diperlukan ketrampilan bersihkan pesimistis, tidak komitmen, arogan, dan hal negatif lain yang dapat merusak pengendalian organisasi. Hal ekstrem seperti: pemberontakan, kudeta, resuffle, reorganisasi, organisasi tandingan, dan bumi hangus perlu dipertimbangkan.
Harmonisasi Fenomena
Fenomena baru akan muncul setiap waktu, terlebih saat pengendali sudah beralih pihak. Ketrampilan berorganisasi keempat adalah melakukan harmonisasi fenomena terakhir pada organisasi. Langkah keempat ini tetap membutuhkan inventarisasi fenomena, perumusan pola pikir bersama, dan sinergi kekuatan. Harmonisasi antara kepentingan diri sendiri, orang lain, dan organisasi menjadi lebih rumit karena kini Anda pengendalinya.
Kepentingan diri tidak terlepas dari visi, misi, strategi, nilai, jaringan, dan pola hidup pribadi. Kepentingan diri adalah bagian dari cinta diri sendiri, bagaimana visi hidup saya tercapai, misi terjalani, dan nilai hidup terjaga. Cinta diri sendiri tidak berarti tidak cinta orang lain atau tidak menghormati kepentingan orang lain. Bahkan cinta itu yang karakteristik cinta sejati oleh Anthony De Mello.
Cinta pada diri sendiri ada 3 wujud. Pertama saya mencintai diri saya sendiri, karena kalau melihat orang lain bahagia maka saya merasa tidak bahagia. Saya harus bersikap egois kalau perlu dengan menyakiti orang lain. Kedua, saya mencintai orang lain, karena kalau melihat orang lain bahagia maka saya merasa bahagia. Saya tidak suka merasa tak bahagia maka saya harus membantu orang lain untuk bahagia. Lihat, betapa saya cinta diri sendiri! Dan ketiga, saya mencintai orang lain karena kalau saya tidak mencintai dia maka dia akan katakan bahwa saya adalah orang jahat, dan saya tidak suka itu. Saya akan menderita sekali kalo orang lain berpikir saya adalah orang jahat, maka saya harus berbuat baik Perhatikan, betapa saya rela menjadi munafik karena saya cinta diri sendiri.
Harmonisasi kepentingan dalam berorganisasi perlu didasarkan pada cinta diri sendiri dalam wujud kedua. Mengapa? Karena ada ruang bagi kepentingan orang lain di sana tanpa perlu menjadi munafik. Kendali kita akan semakin kuat apabila ada ruang bagi individu lain yang berjuang untuk kepentingannya.
Namun adakalanya saat menjaga pengendalian kita harus gunakan topeng besi seperti wujud yang ketiga, atau membuka topeng kita dengan bertindak dalam wujud pertama. Pada akhirnya kita perlu pertahankan prinsip dan nilai ketika ruang untuk kepentingan kita menjadi sedemikian sempit.
Peralihan Generasi
Hukum alam menuntut ketrampilan menyerahkan rumusan pola pikir bersama ke generasi berikut. Tidak cukup itu, ketrampilan berorganisasi pun harus ditransfer ke generasi berikut. Hendaknya hukum alam mengajarkan setiap individu bahwa tidak ada yang abadi, termasuk kekuasaan dan pengendalian.
Seperti belajar naik sepeda, Anda tidak cukup membaca petunjuk. Seperti idiom latin di awal tulisan ini: veritas plateat, veritas placeat, veritas moveat, artinya buatlah jelas, buatlah sederhana, buatlah bergerak! Jadi tunggu apalagi, seusai perjumpaan ini praktekan tulisan ini mulai dari organisasi lingkungan sendiri!
J.I. Michell Suharli
EDUPRENEUR
Pengarang Buku "MINDSET" (GPU, 2008)
ADA CINTA DI BALIK HURUF
Salam Winner
Mozes tidak pernah mengerti, mengapa ia begitu bersemangat kuliah Pengantar Akuntansi 1. Padahal sesi ini adalah dosen keempat untuk matakuliah yang sama. Padahal pelajaran akuntansi adalah pelajaran terberat sejak Mozes di SLTA. Padahal ia selalu tidak suka dengan pengajar akuntansi, kecuali dosen yang saat ini mengkuliahinya. Dosen ini tergolong unik, menyenangkan, dan membuat Mozes begitu penasaran tentang akuntansi dan akuntan. Ia ingat benar, betapa kurang ajarnya dosen ini, ketika menyindirnya di awal kuliah. Dosen ini bilang, “Lulusan kita memang terpercaya kualitasnya. Bagaimana tidak? Satu matakuliah bisa 3-5 kali ambil… Ilmu yang didapat lebih dari 1 dosen dan lebih dari 1 edisi buku”. Sejak itu Mozes bertekad tidak pernah absen selama kuliah dosen itu.
KEKECEWAAN MOZES
Bukan cuma Mozes yang kecewa, banyak senior dan teman baik, yang ia tahu belajar keras karena dosen ini, hanya mendapat D dan E. Baginya dosen ini bukan sekedar mengajar materi, tapi mendidik untuk hidup yang lebih nyata, lebih baik, dan lebih penuh harapan. Sejak nilai “pelit” itu, Mozes memutuskan tidak pernah kenal lagi dosen kesayangannya itu.
KEKECEWAAN DOSEN
Ternyata Sang Dosen juga punya kekecewaan terhadap Mozes dan teman-temannya. Ia bergegas ke kelas agar tidak terlambat untuk menjelaskan materi membosankan yang ia ajar lebih dari 5 tahun. Ia harus lepaskan peluang ketemu rekan bisnis, atasan, kolega dan pihak lain yang mungkin membawanya ke karir lebih baik. Ia harus menunda bertemu dengan orang-orang kesayangannya di rumah demi bertemu anak orang lain, yang mungkin mengharapkan ia absen ngajar.
Dalam keadaan letih, ia tetap tampil penuh semangat agar mahasiswa tidak menguap dengar ocehannya. Seringkali ia melucu, yang ditangkap “jayus” oleh mahasiswa. Ia menguraikan materi plus pengalamannya sesuai persiapan yang dilakukan di tengah kesibukannya. Suaranya tetap ia jaga jelas meski emosi di dalam hati bercampur aduk.
Namun betapa kecewanya Sang Dosen. Meski selalu berbaik hati, setiap kuis ada saja mahasiswa yang nyontek. Sudah mempersiapkan materi semenarik mungkin dan berusaha tampil sebaik mungkin, tetap hasil ujian mahasiswa banyak yang jelek - termasuk Mozes. Ia kenal betul bagaimana apresiasi Mozes di kelasnya. Apa yang benar-benar mengecewakannya? Saat melihat Mozes ”tidak kenal lagi” dengan dirinya.
SEPULUH TAHUN KEMUDIAN
Mozes melihat jam dan menyetir mobil sekencang-kencangnya. Ia lupa marahan klien karena menunda rapat sore itu. Ia cuma bisa janji datang lebih cepat kepada istri dan anak di rumah. Ia tidak berani berjanji pada kawan baiknya yang mengajak bicarakan peluang bisnis di cafe dekat kantornya. Sering ia merelakan 2 anak muda yang tak dikenalnya duduk di mobilnya yang mewah karena 3 in 1.
Akhirnya Mozes tiba di almamaternya 5 menit sebelum jadwal mengajar. Ia ber- ”ha.ha. he.he” dengan orang kenal yang ditemuinya sepanjang jalan ke kelas. Sampai di kelas, tampak wajah-wajah idealis dan lugu menyambutnya dengan bersinar-sinar. Tentu saja sebagian lagi bersungut-sungut. Tapi ia tetap mengajar materi akuntansi yang dulu dibencinya sebagaimana yang dipersiapkan saat istirahat lunch tadi. Ia tetap membagikan pengalaman hidup dan kiat-kiat sukses kepada mahasiswa yang ”bersinar” dan ”bersungut”. Di depan kelas, seringkali ia mengkritik almamater dan kualitas mahasiswa saat ini. Untuk menghibur diri, sesekali ia membanggakan prestasi dan keluarganya. Begitu terus rutinitas Mozes di hidupnya yang sangat sukses.
Sampai suatu saat Mozes memeriksa ujian mahasiswanya. Ia sedih, ada yang nyontek dan banyak yang jelek. Ia sedih harus memberi huruf D atau E kepada mahasiswa yang ”bersinar” maupun ”bersungut” menyambutnya. Namun ia juga tidak kuat hati meluluskan anak yang memasukan perkiraan ”accounts receivable” dalam laporan laba/rugi. Mozes tahu benar bahwa huruf yang ditulisnya dapat memperkuat atau menjauhkan dengan mahasiswa.
Mozes tetap menulis huruf untuk setiap nama mahasiswa dengan segenap hati. Baginya, huruf itu adalah wujud cinta yang terdalam. Huruf itu adalah kristalisasi cintanya sebagai pendidik, bukan sekedar pengajar. Cinta itu mengalir begitu deras, bahkan menembus ruang dan waktu. Mozes belajar hal itu dari hidupnya sendiri. Mozes belajar dari yang terbaik, yaitu Sang Dosen yang 10 tahun lalu ”tidak dikenalnya lagi”...
Sang Dosen adalah seorang pendidik yang penuh cinta. Dosen yang punya visi meluluskan semua mahasiswanya. Dosen yang berkeinginan mahasiswanya mengerti dan kelak menjadi sukses. Dosen yang tidak rela membiarkan mahasiswa menunggu lebih dari 15 menit. Dosen yang membuat materi sulit, menjadi mudah dipahami. Dosen yang rela memberi nilai ”A” ataupun ”E” sesuai prestasi mahasiswanya, meski tiada dikenal lagi. Mengapa? karena hati manusia adalah cinta. Cinta akan mampu menembus ruang dan waktu untuk mengenali cinta dari sesamanya. Hati mahasiswa akan mengenali cinta dosennya, apapun hurufnya – bahkan ketika harus menunggu 10 tahun!
J. I. Michell Suharli
EDUPRENEUR
Pengarang Buku "MINDSET" (GPU, 2008)
