Salam Winner
Mozes tidak pernah mengerti, mengapa ia begitu bersemangat kuliah Pengantar Akuntansi 1. Padahal sesi ini adalah dosen keempat untuk matakuliah yang sama. Padahal pelajaran akuntansi adalah pelajaran terberat sejak Mozes di SLTA. Padahal ia selalu tidak suka dengan pengajar akuntansi, kecuali dosen yang saat ini mengkuliahinya. Dosen ini tergolong unik, menyenangkan, dan membuat Mozes begitu penasaran tentang akuntansi dan akuntan. Ia ingat benar, betapa kurang ajarnya dosen ini, ketika menyindirnya di awal kuliah. Dosen ini bilang, “Lulusan kita memang terpercaya kualitasnya. Bagaimana tidak? Satu matakuliah bisa 3-5 kali ambil… Ilmu yang didapat lebih dari 1 dosen dan lebih dari 1 edisi buku”. Sejak itu Mozes bertekad tidak pernah absen selama kuliah dosen itu.
KEKECEWAAN MOZES
Bukan cuma Mozes yang kecewa, banyak senior dan teman baik, yang ia tahu belajar keras karena dosen ini, hanya mendapat D dan E. Baginya dosen ini bukan sekedar mengajar materi, tapi mendidik untuk hidup yang lebih nyata, lebih baik, dan lebih penuh harapan. Sejak nilai “pelit” itu, Mozes memutuskan tidak pernah kenal lagi dosen kesayangannya itu.
KEKECEWAAN DOSEN
Ternyata Sang Dosen juga punya kekecewaan terhadap Mozes dan teman-temannya. Ia bergegas ke kelas agar tidak terlambat untuk menjelaskan materi membosankan yang ia ajar lebih dari 5 tahun. Ia harus lepaskan peluang ketemu rekan bisnis, atasan, kolega dan pihak lain yang mungkin membawanya ke karir lebih baik. Ia harus menunda bertemu dengan orang-orang kesayangannya di rumah demi bertemu anak orang lain, yang mungkin mengharapkan ia absen ngajar.
Dalam keadaan letih, ia tetap tampil penuh semangat agar mahasiswa tidak menguap dengar ocehannya. Seringkali ia melucu, yang ditangkap “jayus” oleh mahasiswa. Ia menguraikan materi plus pengalamannya sesuai persiapan yang dilakukan di tengah kesibukannya. Suaranya tetap ia jaga jelas meski emosi di dalam hati bercampur aduk.
Namun betapa kecewanya Sang Dosen. Meski selalu berbaik hati, setiap kuis ada saja mahasiswa yang nyontek. Sudah mempersiapkan materi semenarik mungkin dan berusaha tampil sebaik mungkin, tetap hasil ujian mahasiswa banyak yang jelek - termasuk Mozes. Ia kenal betul bagaimana apresiasi Mozes di kelasnya. Apa yang benar-benar mengecewakannya? Saat melihat Mozes ”tidak kenal lagi” dengan dirinya.
SEPULUH TAHUN KEMUDIAN
Mozes melihat jam dan menyetir mobil sekencang-kencangnya. Ia lupa marahan klien karena menunda rapat sore itu. Ia cuma bisa janji datang lebih cepat kepada istri dan anak di rumah. Ia tidak berani berjanji pada kawan baiknya yang mengajak bicarakan peluang bisnis di cafe dekat kantornya. Sering ia merelakan 2 anak muda yang tak dikenalnya duduk di mobilnya yang mewah karena 3 in 1.
Akhirnya Mozes tiba di almamaternya 5 menit sebelum jadwal mengajar. Ia ber- ”ha.ha. he.he” dengan orang kenal yang ditemuinya sepanjang jalan ke kelas. Sampai di kelas, tampak wajah-wajah idealis dan lugu menyambutnya dengan bersinar-sinar. Tentu saja sebagian lagi bersungut-sungut. Tapi ia tetap mengajar materi akuntansi yang dulu dibencinya sebagaimana yang dipersiapkan saat istirahat lunch tadi. Ia tetap membagikan pengalaman hidup dan kiat-kiat sukses kepada mahasiswa yang ”bersinar” dan ”bersungut”. Di depan kelas, seringkali ia mengkritik almamater dan kualitas mahasiswa saat ini. Untuk menghibur diri, sesekali ia membanggakan prestasi dan keluarganya. Begitu terus rutinitas Mozes di hidupnya yang sangat sukses.
Sampai suatu saat Mozes memeriksa ujian mahasiswanya. Ia sedih, ada yang nyontek dan banyak yang jelek. Ia sedih harus memberi huruf D atau E kepada mahasiswa yang ”bersinar” maupun ”bersungut” menyambutnya. Namun ia juga tidak kuat hati meluluskan anak yang memasukan perkiraan ”accounts receivable” dalam laporan laba/rugi. Mozes tahu benar bahwa huruf yang ditulisnya dapat memperkuat atau menjauhkan dengan mahasiswa.
Mozes tetap menulis huruf untuk setiap nama mahasiswa dengan segenap hati. Baginya, huruf itu adalah wujud cinta yang terdalam. Huruf itu adalah kristalisasi cintanya sebagai pendidik, bukan sekedar pengajar. Cinta itu mengalir begitu deras, bahkan menembus ruang dan waktu. Mozes belajar hal itu dari hidupnya sendiri. Mozes belajar dari yang terbaik, yaitu Sang Dosen yang 10 tahun lalu ”tidak dikenalnya lagi”...
Sang Dosen adalah seorang pendidik yang penuh cinta. Dosen yang punya visi meluluskan semua mahasiswanya. Dosen yang berkeinginan mahasiswanya mengerti dan kelak menjadi sukses. Dosen yang tidak rela membiarkan mahasiswa menunggu lebih dari 15 menit. Dosen yang membuat materi sulit, menjadi mudah dipahami. Dosen yang rela memberi nilai ”A” ataupun ”E” sesuai prestasi mahasiswanya, meski tiada dikenal lagi. Mengapa? karena hati manusia adalah cinta. Cinta akan mampu menembus ruang dan waktu untuk mengenali cinta dari sesamanya. Hati mahasiswa akan mengenali cinta dosennya, apapun hurufnya – bahkan ketika harus menunggu 10 tahun!
J. I. Michell Suharli
EDUPRENEUR
Pengarang Buku "MINDSET" (GPU, 2008)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar