Tutur Kata
AA Gym bilang tutur kata seperti air yang keluar dari teko. Apa isi kepala da hati biasanya tercermin dalam tutur kata kita. Tutur kata yang santun dalam penyampaian kritik dan solusi. Magnis Suseno telah memberi contoh yang baik dalam ulasannya terhadap kehidupan berbangsa selama ini. Tutur kata yang antusias dalam membahas permasalahan bangsa dan jalan keluarnya. Dr. Sjahrir dan Kwik Kian Gie merupakan teladan dalam hal ini.
AA Gym bilang tutur kata seperti air yang keluar dari teko. Apa isi kepala da hati biasanya tercermin dalam tutur kata kita. Tutur kata yang santun dalam penyampaian kritik dan solusi. Magnis Suseno telah memberi contoh yang baik dalam ulasannya terhadap kehidupan berbangsa selama ini. Tutur kata yang antusias dalam membahas permasalahan bangsa dan jalan keluarnya. Dr. Sjahrir dan Kwik Kian Gie merupakan teladan dalam hal ini.
Tutur kata yang berempati dengan rakyat kebanyakan. Negeri ini penuh dengan rakyat yang miskin dan lemah, berempatilah kepada yang lemah seperti yang dicontohkan Sofyan Effendi dalam harian ini. Tutur kata yang inklusif dan pluralis. Din Syamsudin bertutur kata sangat inklusif dan pluralis menempatkan perbedaan isme kelompok Madi sebagai sesuatu yang perlu dihargai. Tutur kata yang cerdas dan kontributif. Menteri pertahanan kita adalah bintangnya dalam menyikapi pro kontra MOU Aceh beberapa waktu lalu.
Perilaku
Pikiran dan bicara tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah nihil. Berpikir dan berbicara, “bersama kita bisa” harus diikuti tindakan nyata. Tindakan nyata bersama-sama rakyat yang memilihnya. Perilaku klasik yang dapat menjadi obat mujarab saat ini adalah berhemat, gotong royong, dan berjuang.
Perilaku hemat harus diteladankan, bukan dikaburkan dengan anggaran lain-lain senilai Rp. 111 milliar dan pembelian pesawat kepresidenan. Perilaku hemat juga bukan kebabalasan yang membahayakan akibat kondisi ibukota yang gelap. Perilaku hemat bukan berarti bukan logika Rp.100 ribu / rakyat ekuivalen dengan Rp. 10 juta / wakil rakyat. Lupakah kita pada idiom “beri aku kail, maka aku akan dapat ikan 1000 tahun lagi”. Hemat bukan berteriak miskin namun diskotek selalu penuh, rokok ngebul terus atau jalan macet dimana-mana.
SD mengajarkan ciri khas bangsa ini adalah gotong royong. Entah dimana teladan itu sekarang. Egoisme, fanatisme dan primordialisme merajalela. Kekerasan, kriminalitas, dan individualis adalah realita para alumni SD yang dulu ngapung, dekil, dan lugu. Gotong royong tidak membeda-bedakan suku, agama, atau golongan tertentu. Jangan tanyakan kemana pemuda Tionghoa di prestasi sepakbola nasional, jangan tanyakan kemana politikus Tionghoa yang tampil sebagai pimpinan bangsa ini, kalau memang bangsa ini tak lagi mengharapkannya.
Perjuangan kemerdekaan teritorial mungkin sudah berakhir, namun kemerdekaan dari bencana dan krisis masih menuntut perjuangan bersama. Berjuang di tempat masing-masing untuk dunia yang lebih baik. Berjuang menegakaan integritas profesi, kesejahteraan karyawan, peningkatan diri melalui pendidikan, atau berjuang menjaga keamanan dan kedaulatan bangsa ini. Bukan lagi dikotomi militer-sipil, mayoritas-minoritas, kaya-miskin, namun perjuangan bersama untuk tempat hidup yang lebih baik untuk anda, saya, dan anak cucu kita. Segala bencana dan berita buruk cuma sentilan, yakinlah bersama kita pasti bisa!
SEMENTARA PECUNDANG MERIBUTKAN MASALAH, PEMENANG SUDAH MENAWARKAN SOLUSI
J.I. Michell Suharli
EDUPRENEUR
EDUPRENEUR
Pengarang Buku "MINDSET" (GPU, 2008)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar